Jumat, 09 Mei 2008

Gelar Perjuangan

Panas terik matahari yang sangat menyengat
Tak seperti hari biasa saat puncak bulan hujan
Seorang anak manusia dari desa mengembala ilmu di kota orang
Entah apa yang terlintas dibenak qalbunya
Mungkin terbenam cinta-cita yang luar biasa
Ia terlintas sangat senang dan tenang
Tapi tak seperti yang dibayangkan orang
Bahwa dia sangat senang dan tenang
Padahal suasana hati gundah dan mencengang
Kini tiba saatnya dia berunjuk pikiran
Kertas putih yang suci sebagai saksi pikiran
Ia lontarkan bak seorang kyai yang sedang ceramah di mimbar
Rangkaian kata terlontar menghantamnya
Kuncuran keringat tercecer dipundaknya
Muka pujat seperti halnya orang yang baru sembuh sakit
Tapi akhirnya dia meneteskan air mata
Tanda haru dan syukur kepada-Nya

Tidak ada komentar:

Imajinasi Nafsu Setan

Kini aku terkungkung oleh suasana
Seolah aku terkurung beribu-ribu tahun lamanya
Aku tak bisa keluar dari lingkaran setan
Selendang putih mencoba
Melambaikan panjang bak menuju singasana permaisuri
Saat melewatinya perlahan-lahan
Aku selalu tergelincir di tengah permukaannya
Dia telah mengodaku hingga mataku liar kemana arah yang indah
Jiwaku pasrah oleh hinanya keindahan
Aku selalu terjebak saat waktu itu sepi nan hampa
Hingga terbawa sahdunya simponi setan yang mengrutu
Aku terbawa kelamunan asmara jiwa
Membawan lamunan jiwa ke mimpi-mimpi yang nyata
Saat terlena akan nikmatnya lamunan hina
Bak orang tolol yang sedang bercinta dengan alam semesta
Berkali-kali terulang kembali
Hingga wajahnya pujat dan lemas
Aku bilang apa!
Keluarlah dari rumah keong yang kotor
Yang membawamu keruang-ruang imajinasi hampa
Teka-teki kehidupan yang sulit ditebak
Ia mengalir kemana suasana itu bersama
Tapi kini mulai tertulis indah
Di batu marmer di ujung sana.

Kejamnya Kehidupan Kota

Sebuah kota, dengan seklumit permasalahan
Sampah kota, hingga masalah kehidupan
Mewarnai dan menghiasi kehidupan kota
Penduduk kota bertebaran disudut kota
Hanya sekedar untuk mencari nafkah
Entah itu halal atau benar
Hanya untuk menyambung hidup di kota
Yang keras dan kejam seperti neraka

Anak kecil itu duduk di sudut kota
Kelihatan murung dan muram
Entah apa yang sedang ia pikirkan
Masa depan, bertahan hidup ataukah hanya sebatas mencari kesenangan
Itulah mungkin yang sedang ia pikirkan

Kehidupan kota mulai ramai
Dengan berbagai aktifitasnya
Ia, lalu bergegas pergi meninggalkan peristirahatan
Berjalan perlahan tanpa memperdulikan kondisi badannya
Carut marut selalu menjadi identik akan kondisinya

Sesampai di tengah kota
Ia, duduk termenung sejenak menatap cahaya dan keramaian kota
Terlintas bayangan yang sedang menghinggapi si kecil yang murung
Melihat teman sebayanya membawa tas rangsel yang berisi pena serta buku bacaanya
Pohon bisu itu menjadi saksi akan cita-cita si kecil yang kusam

Si kecil tau diri akan kondisi kehidupannya
Yang susah baginya untuk menggapai cita-citanya
Dia hanya hidup sebatang kara
Tak ada yang memperdulikan nasib akan kondisi kehidupannya
Tapi, si kecil selalu optimis dalam benaknya
Agar setiap hari ada orang yang berbelas kasih padanya
Hingga si kecil dapat menggapai cita-cita dan impianya

Cuaca panas dengan sengatan terik matahari
Percikan air dari awan selalu menjadi teman sehari-hari
Tubuh si kecil kusam, hitam seperti halnya suasana kehidupan kota
Entah apa yang ia kerjakan yang peting dapat menghasilkan koin-koin kecil
Si kecil bisa mengisi perut yang kadang bisa di isi Cuma 1 kali
Dalam seharinya dan bahkan sama sekali tak terisi

Si kecil hanya bisa mengangkat kedua tangannya
Hingga ia selalu berkata dan mengucapkan isi hatinya
Semoga selalu dilindungan sang pencipta
Doa rahasia dan asma tuhan selalu terucap dari mulutnya
Agar ia bisa bertahan hidup atas pertolongan tuhan
Ataupun belas kasihan manusia yang memiliki jiwa mulia
Hingga tak ada lagi bocah-bocah kecil, murung nan kusam berkeliaran di sudut kota
Agar ia bisa hidup sedianya, mengapai cita-cita dan impian hidupnya
biar aspal hitam yang bisu menjadi saksi akan nasib hidupnya.
Sepanjang Jalan Magelang Yogyakarta

Petapa bisu, serangga-serangga lemah
Yang berumah di celah tanah dan berkemah di semak belukar
Lengkingkan lagu riangmu bersahutan mewarnai di malam hari
Hingga terbitnya sang fajar
Ketika para manusia umumnya sedang terlelap lelah
Di singgasana peristirahatannya

Jalan lurus itu sedianya sepi nan suci
Tapi tidak di sepanjang jalan magelang yogyakarta
Jalan lurus itu bebas hambatan di petang malam
Kuda besi melaju kencang di jalan remang-remang
Berbagai aktifitas kehidupan malam menghiasi warna indahnya suasana di saat petang
Lupakan sejenak kepenatan aktifitas pagi hingga siang

Berpesta, bercumbu, nostalgia hingga mabuk asmara
Mewarnai seru nan ramainya suasana
Lupakan sejenak berhura-hura dengan menenguk segelas naga
Siulan lagu riang gembira meyemarakan suasana
Kerlap-kerlip cahaya bulan di alang-alang
Membuat orang muncul bintang di atas kepala

Membebaskan diri sehari saja dengan tanda Tanya
Entah apa yang sedang ada di benak pikiranya
Tak penting bagi mereka kelak jadi mahluk mulia
Yang penting menikmati sorga yang menjelma nyata di dunia
Semburan napas naga membuatnya berbintang-bintang di kepala
Hingga ia lemas, pasrah dan gila
Jalan lurus itu seolah berkelok-kelok hingga kadang nasib buruk menimpa
Saat lemas, pasrah nan gairah kehinaan menimpa
Lupakan sejenak dengan menikmati sorga dunia
Mungkin bukan hina baginya yang sedang lupa pasrah berumah di celah dingin tanah

Sekedar seklumit kehidupan
Di sepanjang jalan magelang yogyakarta
Tiga saksi mata dan kerlap kerlip bergantian sesuai tugasnya
Memang dia bisu karena ia hanya bisa memancarkan cahayanya
Tapi ia tegap gagah perkasa berdiri di setiap pojok sudut jalan.

Bidadari Setan

Gelap ruang hampa tak bersuara

Sunyi sepi seperti tak ada kehidupan nyata

Oh…….dunia indanya kehidupan ini

Ya……..tuhanku kau sungguh luar biasa

Kau berikan pendamping yang indah

Bertubuh putih mulus

Lekuk tubuhmu bak samurai

Tajam saat seketika bergerak

Indahnya tubuhmu wahai bidadari setan

Kau bunuh jiwa-jiwa para pangeran

Dengan seperangkat senjatamu yang indah

Apakah tugasmu membunuh jiwa para pangeran

Kau sungguh sangat hina

Tubuhmu yang putih mulus

Kau sajikan kesemua pangeran

Menu santapan yang membosankan

Meski nikmat dan indah

Jiwamu sedang terselimuti bidadari setan

Kau buat pangeran lemah

Merusak kosmik semesta alam

Kau memang tak punya malu

Kau ajarkan pangeran

Keruang gelap hampa nan kelam

Cahaya merah panas membakar jiwa.

Sejarah yang Hilang

Ditengah maraknya pemberitaan mengenai kesehatan mantan presiden RI menghiasi headline news pada media massa baik nasional maupun lokal, menjadi menu bahan diskusi masyarakat. Banyak pro dan kontra tentang status hukum presiden soeharto, apakah kasus hukum dilanjutan sampai status hukum jelas ataukah melalui jalan damai dengan opsi mengembalikan dana yang telah diselewengkan ke kas Negara. Meskipun mantan persiden RI dalam kondisi kesehatan yang tidak menentu kadang membaik dan terkadang tiba-tiba memburuk tapi kekuatan politik sang jendral masih terlihat begitu kuat, meskipun sang jendral tidak lagi aktif di dunia politik praktis. Semenjak terjadinya reformasi tahun 1998 hingga di awal tahun 2008 status hukum mantan persiden RI masih mengambang.

Mahasiswa yang dianggap kekuatan yang bisa mengancam masa pemerintahan matan persiden soeharto, terbukti dapat mengulingkan pemerintahan orde baru tetapi hampir 15 tahun lebih sang jendral mengendalikan suara dan kekuatan mahasiswa dengan menerapkan berbagai program dan kebijakan yang harus dijalankan oleh setiap Universitas. Salah satu cara dengan mendirikan yayasan supersemar, dimana salah satu tujuan dari yayasan tersebut membantu biaya pendidikan (beasiswa) bagi para pelajar tetapi semenjak lengsernya pemerintahan orde baru beasiswa supersemar tidak ada lagi dan bahkan pemerintah melalui KPK dan kejaksaan sedang mengusut yayasan tersebut karena diduga yayasan supersemar telah menyelewengkan dana yang mengakibatkan kerugian Negara.

Berbagai kasus yang telah diperbuat semasa masa pemerintahan sang jendral, pembunuhan masal, korupsi, kolusi, nepotisme, melangar hakasasi manusia dan penghapusan sejarah menjadi catatan hitam di masa pemerintahan sang jendral meskipun di masa pemerintahan sang jendral membawa Indonesia menjadi salah satu macan Asia dengan perekonomian yang stabil. Jika sekarang pemerintah mengusut kejahatan sang jendral baik masalah KKN maupun kejahatan kemanusian yang sering dilontarkan kalangan mahasiswa, politisi dan media masa. Tapi sayang masalah sejarah jarang sekali disingung padahal sejarah merupakan salah satu bentuk tranformasi masa lampau. Pada tanggal 17 Agustus 1966 saat Ir soekarno membacakan pidato kenegaraan berkaitan dengan supersemar, dimana esensi supersemar bukan peralihan kekuasaan dari Ir. Soekarno ke sang jendral Soeharto. Sedang isi dari supersemar menyangkut keamanan Negara, pengamanan diri persiden dan pelaksanaan ajaran persiden tapi entahlah karena sejarah telah direkayasa hingga generasi selanjutnya tidak tahu menahu asbabun nuzhul dan kebenaran dari supersemar.

Naskah supersemar yang beredar samapai sekarang palsu. Menurut ahli telematika Roy Suryo naskah supersemar yang beredar samapai sekarang di kelompokkan ke dalam 3 jenis A, B, C kalau kita cermati naskah supersemar kita akan melihat berbagai kejangalan dari segi tanda tanggan, sepasi, tata cara penulisan dan jarak kalimat. Lalu bagaimana cara kita menganalisis apakah naskah supersemar yang sekarang beredar asli atau palsu salah satu cara dengan membandingkan dengan yang asli tapi karena naskah yang asli sampai sekarang tidak tahu dimana wujudnya. Para tokoh pahlawan mengatakan bahwa naskah supersemar yang asli pada film dokumentasi yang disimpan sebagai arsip Negara, yaitu Film selluloid ANRI, yang jarang sekali dan mungkin bahkan tidak sama sekali dipublikasikan ke masyarakat. Selagi tokoh kunci dari supersemar masih ada, pemerintah maupun pihak-pihak lain jagan hanya mengusut status hukum sang jendral dan masalah KKN yang diperbuat oleh sang jendral, sehingga mengesampingkan soal sejarah yang selama ini telah direkayasa oleh sang jendral. Jika sejarah ke-Indonesiaan, seni, budaya dihilangkan mapun direkayasa dengan dalih tujuan politik maupun dengan tujuan yang lain, maka bersiap-siaplah suatu saat nanti generasi selanjutnya akan melupakan sejarah besar ke-Indonesiaan.

Back to the Indonesian Coorporate Privacy

Krisis ekonomi melanda Indonesia sejak 1998 yang berpengaruh keberbagai sektor mikro dan makro ekonomi membuat iklim perekonomian di Indonesia tidak stabil. Perusahaan milik Negara BUMN satu persatu mulai di swastanisasi oleh pemerintah guna mempercepat pembangunan nasional. Perusahaan telekomunikasi BUMN (Indosat dan Telkom) salah satu korban swastanisasi yang dilepas mayoritas sahamnya ke perusahaan telekomunikasi Singapura. Kini saham, indosat dengan kepemilikan saham 85% dimiliki telekom Singapura dan sisanya 25% dimiliki oleh pemerintah dan umum, kini pemerintah merencakan kembali untuk privatisasi BUMN.

Pemerintah merencanakan target privatisasi 28 perusahaan BUMN tahun 2008, sementara pada tahun 2007 pemerintah menargetkan privatisasi perusahaan BUMN sebanyak 14 perusahaan tapi hingga penghujung tahun 2007 baru 3 perusahaan yang dapat diprivatisasi oleh pemerintah. Seperti diberitakan diberbagai media cetak dan elektronik pemerintah Indonesia mengklaim bahwa adanya monopoli pasar telekomunikasi antara telkom dan indosat yang mayoritas sahamnya di miliki perusahaan telkom Singapura.

Dalam pelaksanaan program privatisasi kebijakan ditentukan oleh bebarapa lembaga Negara yang memiliki pandangan berbeda yang kadang menimbulkan pro dan kontra. Misalnya kementrian Negara BUMN memandang dari sisi mikro ekonomi, pada tahun 2006 mikro ekonomi menyumbang sekitar 53,3 % dari PDB (produc domestic bruto) nasional. Ekonomi mikro bertujuan meningkatkan produktivitas, profitabilitas, efesiensi, dan pengurangan utang BUMN. Departemen keuangan lebih memandang dari sisi makro ekonomi, dengan tujuan privatisasi berorientasi pada fiskal ekonomi, yaitu menambah sumber Angaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), perbaikan iklim investasi dan pengembangan pasar modal. Sedangkan dari Legislatif sebagai pengontrol menggunakan pandangan ekonomi politik, objektivitas ekonomi politik dengan tujuan melindungi asset nasional dengan pertimbangan melindungi bidang usaha yang berkaitan dengan nasionalisme.

Dari ketiga lembaga berbeda yang memiliki pandangan berbeda dari berbagai sisi maka muncul sebuah pertanyaan apa sebenarnya maksud kebijakan pemerintah untuk kembali memprivatisasi perusahaan BUMN yang dulu membuat kebijakan menswastanisasi perusahaan BUMN? Lalu jika hal tersebut memang merupakan salah satu indikator perbaikan iklim perekonomian Indonesia maka harus jelas arah privatisasi BUMN, sebab samapai akhir tahun 2007 dari keseluruhan BUMN yang diprivatisasi 15%nya baru BUMN yang berskala besar. Padahal realita menunjukan bahwa sektor mikro ekonomi yang mampu bertahan hidup saat krisis ekonomi melanda Indonesia. Hingga akhir tahun 2007 sektor mikro menyumbang 53,3% lebih PDB (product domestic bruto) nasional. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa privatisasi BUMN memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan kapitalisasi pasar modal Indonesia dan percepatan pembangunan. Kita berharap dengan adanya privatisasi perusahaan BUMN yang dilakukan oleh pemerintah dapat meningkatkan good corporate governance, masuknya sumber keuangan baru ke perusahaan, pengembangan pasar, mendorong iklim investasi yang bagus dan peningkatan peran civil society dalam pembangunan nasional.

Kita juara……..


Sudah asing lagi bagi kita baik yang dari desa, dari kota, anak pejabat dan lain-lain pasti mengenal yang namanya sepak bola. Olah raga rakyat yang satu ini begitu di gemari oleh masyarakat yang tak mengenal status dan kedudukan. Olah raga sepak ini lahir dan di populerkan di negri kerajaan Inggris hingga akhirnya di kenal di seluruh Dunia termasuk Indonesia. Setiap tahun pasti ada sebuah kompetisi sepak, baik level tarkam (kompetisi antar kampong), kompetisi level nasional, level mahasiswa dan juga yang paling akbar piala dunia. Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan hiburan murah bahkan gratis ini begitu mengemparkan bumi nusantara ini, lihat saja di sudut-sudut dukuh yang berada di provinsi DIY ini. Kita bisa dapatkan bendera kesebelasan PSIM (Yogyakarta), PSS (Sleman), PERSIBA (Bantul) terbentang melambai dengan megah tatkala diterpa angin disaat pancaran sinar matahari menyinari bumi nusantara. Kompetisi sepak bola yang dilombakan di tingkatan mahasiswa juga tak kalah ramai dengan kompetisi nasional, antusiasme pemain dan penonton pun begitu meriah.

Fakulta Ekonomi, salah satu fakultas yang ada di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta juga tak mau kalah untuk meyelengarakan kompetisi sepak bola antar kelas yang ada di Fakultas Ekonomi. Biasanya kompetisi ini di selengarakan oleh BEM FE (badan eksekutif mahasiswa) guna menyalurkan bakat serta hobi para mahasiswa serta menghindarkan mahasiswa dengan kegiatan-kegiatan yang negatif dengan semangat fair play maka kompetisi antar kelas di selenggarakan setiap tahunya. Kelas E Manajemen 2003 salah satu kelas yang begitu kompak dengan semangat kebersamaanya pun ikut serta 3 kali selama tiga periode kompetisi di gulirkan.

Barno, Herland, Sulupuk Lukman, Hendri, dan aku sendiri merupakan pemain-pemain andalan kelas E Manajemen 2003. Saat keikut sertaanya pertama kali datang dari Barno yang menanyakan ke Herland yang juga salah satu pengurus BEM.

Lan, piye ki kelase dewe melu daftar kompetisi ra…….menanyakan ke Herland

Herland dengan gaya bahasanya yang keras dan asal ceplas ceplos membalas pertanyaan Barno. Melu no….mosok ra melu to’…….

Yo wis kewe sing daftarke yo… balas Barno dengan nada semangat.

Dan akhirnya saat kompetisi bergulir kita langsung melesat lolos keperempat final. Akhirnya terhenti juga perjuangan teman-teman manajemen E yang di kalahkan dengan skor 1-0 dengan angkatan 2000 manajemen. Ya, wajarlah saat keikutan pertama kali kompetisi kita menjadi salah satu wakil dari mahasiswa baru yang masih tersisa dan bertahan sampai perempat final, apalagi kita mentalnya kalah dengan mahasiswa-mahasiswa yang di atas tingkat kita.

Perjuangan pada tahun kedua di mulai dengan kepengurusan BEM FE yang baru, salah satunya aku masuk dalam kepengurusan BEM periode 2005/2006. Saat itu kemeriahan dan keikut sertaan para peserta lebih antusias dan ramai. Mario ketua BEM FE saat itu aku saranin agar hadiah di tambah gede biar semarak kompetisinya lebih meningkatkan gengsi dan kualitas kompetisi. Kompetisi pun mulai berjalan seru dan ramai. Hampir ada yang mau ributt antar supporter tapi tidak samapi beradu fisik. Kelasku pun melaju ke perempat final kembali. Tapi, saat pertandingan pada perempat final ada yang aneh dan pengalaman baru soalnya baru pertama kali ini aku tau kalau ada pertandingan berhenti sejenak karena ada suara Adzan Dzuhur. Temanku Herland dan sulupuk Lukman menghapiri wasit untuk menhentikan pertandingan sejenak guna menghormati Adzan. Aku pun ketawa……..dasar sulupuk ucapa dari teman-teman lain mengatakan Lukman dan Herland…..ya mungkin karena saat pertandingan perempat final kita menghormati adanya Adzan Sholat Dzuhur akhirnya kita keluar sebagai juara “Champion Cup Ekonomi” yang tak terduga dan juga bukan sebuah kebetulan karena berkat kekompakan dan semangat yang tinggi kita bisa mengalahkan kelas-kelas lain yang kualitas skill ya jauh lebih bagus di bandingan para pemain kelas Manajemen E 2003. Kita pun mendapatkan piala tetap dan bergilir serta uang pembinaan sebesar 300.000 yang kemudian di buat untuk syukuran kelas di kontrakan Ambarketawang, dengan seluruh kru kelas Manajemen E 2003 beserta simpatisan dengan jumlah beribu-ribu higga tempatnya sesak dipenuhi oleh tubuh-tubuh gempal dan kurus.

Jeritan Jiwa di Tahun baru Hijriyah


Waktu terus berjalan, jarum jam terus berputar tanpa rasa lelah. Dari kedalaman jiwaku selalu terhanyut dalam buaian indah dunia. Kucoba berulang kali menjaga dan melindungi fitrahku yang suci. Dalam keheningan malam yang mengigit kusibak rahasia jiwa. Agin malam terdiam engan bercanda, bintang gemintang bergayut angkuh tak peduli, bulan yang indah selalu menerangi dunia, seakan memeriahkan suasana malam, kucoba selalu tersenyum setiap memandang seluruh ciptaanmu, setiap kali hatiku gundah gelisah kucoba selalu mendekatkan. Kumasuki samudra batinku yang kelam, menebar sejuta Tanya di ruang hampa jiwaku, tidak kudapatkan apapun kecuali jiwaku yang menjerit gelisah. Hal tersebut membuat aku lalai dalam menjankan amanahmu di dunia ini, memang aku sudah tidah remaja lagi karena di tahun baru hijriah ini aku genap berusia 22 tahun, artinya secara fisik aku sudah bukan remaja lagi yang identik dengan pencarian jati diri. Memang 22 tahun tidak terasa dan bahkan terlalu cepat bagiku dalam menjalani kehidupan ini, indah memang indah, kelam memang kelam itulah kehidupan dunia. Jiwa, hati dan akal selalu bertengkar dan berselisih pendapat dengan nafsu yang mengebu-gebu untuk menentukan pilihan di setiap tidakan yang kita lakukan. Kelam jika jiwa, hati dan pikiran tidak bekerja sama untuk menaklukan sang nafsu, indah, harum, putih seperti ketulusan mawar putih menghipnotis sang mahluk jika menghirupnya. Jeritan jiwa selalu menegur jika pilihanku kelam dan menyesatkan, bahkan tak cangung-cangung dalam memberi motivasi pada hati dan pikiran.

Kemeriahan diseluruh muka bumi ini hampir satu bulan terlalui, umat manusia selalu menunggu momen tersebut tanpa memandang latar belakan, ada yang menikmatinya dengan berfoya-foya (pesta, becumbu, bernostalgia, tebar cinta, romantisme), ada juga yang memanfaatkan momen tersut dengan perenungan. Namun, beruntunglah seorang yang memanfaatkan momen tersebut dengan perenungan karena jeritan jiwa yang mengebu, sebab dengan perenungan itulah seorang anak adam akan mendapatkan cinta dan kemesraan dari sang khalik. Renungan hati dan jiwa selalu ku beri porsi yang lebih demi terciptanya sebuah perubahan pada kepribadianku dalam menatap keindahan semesta alam yang begitu indah, bintang gumintang bertebaran di birunya awan, indah memang sangat terasa indah jika kita menikmati dengan kerendahan jiwa yang suci penuh dengan ketulusan hati, serasa ingin terus kupeluk keindahan semesta alam yang tuhan berikan kepada umat manusia.

Tapi mustahil itu ku lakukan, karena aku bukanlah segala-galanya, memang setiap ciptaanya memilki sifat yang sama dengan sang penciptanya tapi itu hanya secuil dan sekecil manisnya gula pasir yang sering diburu sang semut. Selang 2minggu tahun baru islam bergatian memeriahkan agenda aktivitas dunia, tapi suasana tahun baru kali ini tidak semeriah tahun yang terkenal dengan “happy new year”, umat muslim diseluruh muka bumi ini memanfaatkan momen ini kebanyakan dengan aktivitas yang jauh dari hura-hura, jauh sekali perbrdaannya tapi disinilah indahnya pergantian tahun baru islam. Banyak sekali umat muslim memanfaatkan momen ini dengan aktivitas-aktivitas untuk mendekatkan diri dengan tuhannya. Tiba-tiba jarum jam menunjukan pukul 02.00 ku coba keluar dari singasanaku yang kecil dan sederhana, kutatap indahnya ciptaan tuhan bintang-bintang bertebaran, bulan dan nyaringnya bunyi suara mahluk lain, udara dingin pada waktu itu membuatku mengigil sebab dinginnya udara pada waktu itu mulai menusuk tulang rusukku.

“Tak apalah namanya suasana malam menjelang pagi” kata-kata itu yang sempat keluar dari mulutku. Aku tatap keagunganmu dengan penuh tawa dan canda karena aku pingin membuat tuhanku bangga dan paling tidak bisa tersenyum dengan aktivitas yang dilakukan oleh ciptaannya. Kuresapi, kuratapi dan pandangi indahnya kehidupan ini, tiba-tiba kawan seperjuanganku menghampiri dan menyapaku. “Boz dari pada ngalamun mendingan nongkrong neng likuid wae” tersentak kaget suasana batinku, apa nongkrong? ga ah ak mending disini lebih enak dan lebih nyaman disini, sorry banget yo bozz. Setelah kawanku pergi ku lanjutkan menikmati suasana malam itu sampai fisiku lemah, mataku mulai berat sekali untuk memandang keidahan pada waktu itu, dan pada akhirnya aku memilih mengantarkan tubuhku yang mulai lemah ini disingasanaku yang penuh dengan kesederhanaan, dan berakhirlah pengembaran jiwa dan batinku di malalm itu. grhurukkkkkkkkkkk……..ezzzzzzzz…..hehhhhhhhhh, “sampai jumpa ditahun depan”.

Teman Skripsiku yang bawel….


Pada umumnya dalam perguruan tinggi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan (S1) harus menyusun yang namanya skripsi. Sama halnya di perguruan tinggi yang aku jadi pijakan untuk menuntut ilmu selanjutnya setelah tamat SMU. Sudah sejak semester 7 aku sudah mulai menyusun skripsi, dengan yang sekarang berarti menjadi dua semester. Satu semester aku hanya berkutat kebingungan yang hanya bisa sekedar meyusun proposal saja, maklumlah dosen pembimbingku termasuk yang dihindari di fakultasku, kiler istilah familiarnya. Pak Asdi biasa dipangil oleh para mahasiswanya. Awal bulan mei 2007 aku mulai melakukan bimbingan skripsi kepada pak Asdi.

Pak Asdi hanya meluangkan waktu konsultasi hari senin dan sabtu itu pun cuma sekitar 2 jam setengah. Iya, itulah mungkin saking sibuknya jadi hanya meluangkan waktu untuk konsultasi hanya sekitar 2 jam, itupun masih di bagi waktunya dengan berbagai mahasiswa dan mahasiswi, tidak hanya aku saja. Saat hari senin itu aku dan teman-temanku yang skripsi dibimbing oleh pak Asdi mulai konsultasi rutin. Saat itu yang awal konsultasi karena kebetulan aku nunggu dari jam 8.30 saat itu pak Asdi keluar dari kelas dia mengajar. Kutunggu di ruang pengajaran karena pak Asdi biasa melayani konsultasi di ruang pengajaran yang di campur dengan ruang yang lain, maklum dia ga pernah singah di ruang kerjanya atau mungkin tidak diberi tempat kerja seperti halnya dosen lain. ya, entahlah aku males nanya-nanya soalnya orangnya berwajah suerem dengan kemeja yang dibuka kancing bajunya paling atas, mirip aktor Bollywood he………………….

Nah, sudah giliran aku untuk konsultasi.

Assalamualikum pak…”maaf pak saya mau konsultasi skripsi. Tanyaku?”

Walaikumsalam……”membalas ucapanku tadi”

Apa yang mau kamu konsultasikan, “Tanya pak Asdi”

Ku jawab dengan tegas dan semangat penelitian marketing berwawasan social pak!”

Diskusipun mulai lebih serius, aku pun sudah bisa menebak diterima atau enggak judul yang aku ajukan.

Tak terasa sudah hampir setengah jam aku konsultasi denganya, akupun mulai bosan dan akhirnya akupun pamit. “cari jurnal lain dan dipelajari ya” pesan terakhir dari pak Asdi untuk mengakhiri konsultasiku pada hari itu. Ku jawab dengan kata ‘terimakasih pak. Setelah itu akupun bergegas menuju tempat peristirahatanku, ku siapkan bahan-bahan dan materi-materi untuk meyusun proposal skripsi. Karena masih dalam suasana yang masih fresh dan semangat serta motivasi yang tinggi maka satu hari selesai aku meyusun proposal skripsiku, hingga malam itu sekitar pukul 23.32 selesai dengan fisik yang lemas karena dari tadi pagi aku belum sarapan nasi. Ya, jadi lemes serta perut yang selalu dangdutan seperti Inul Daratista konser ha……..tertawa teman sebelah kamarku mendengarkan ucapanku tadi.

Dengan udara yang sejuk nan dingin pada malam itu yang seolah menusuk tulang rusukku menyebabkan hidungku keluar air. Ya” seperti ingus. Setelah perutku tidak lagi konser dandut akupun mulai stronge lagi tapi karena waktunya untuk istirahat, setelah sesampai di kamar aku langsung terkapar di atas singasana tidur, terlelaplah aku hingga bermimpi proposal skripsiku diterima atau di sahkan. Ternyata benar selang beberapa hari proposal skripsiku di terima tapi aku tidak merasa bangga karena aku masih kebingungan sana sini, ku tanyalah kepada bunda Istho dosen konsentarasi manajemen karena sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri maka tak masalah bagiku karena beda konsentarasi. Setelah ku Tanya naglor ngidul ternyata proposalku masih banyak yang salah baik dari segi penulisan dan ketajaman dari indikator-indikator penelitianya. Aku pun tak begitu aja putus semangat, kemudian giliran ke pak Dekan Fakultas Ekonomi untuk konsultasi proposal skripsiku. Sama halnya dengan bunda Astuti setelah ngalor ngidul pemcicaraan dengan hasil yang sama yaitu masih banyak yang salah baik dari segi penulisan maupun ketajaman dari indicator penelitian.

Akhir, skripsiku terhenti hingga akhir semester pertamaku dengan hasil yang tidak memuaskan. Aku pun mengambil inisiatif untuk mencari solusi yang tepat dan keputusanku ganti dosen pembimbing. Setelah aku lobi sana sini di berbagai dosen yang ada di fakultas ekonomi akhirnya keinginanku untuk ganti dosen akhirnya tercapai, tapi karena pemilihan dosen pembimbing di lakukan oleh program studi manajemen maka aku harus menunggu sekitar 1-2 mingguan. Dengan hati berdebar-debar memikirkan kira-kira siapa dosen yang jadi pembimbingku, akhirnya waktu pengumuman pun tiba. Dan rasa syukur akhirnya keluar dari hatiku karena dosen pembimbing skripsiku sesuai dengan harapanku yang jatuh pada pak Anwar. Aku di posisi pertama di daftar nama-nama mahasiswa yang skripsinya dibimbing oleh pak Anwar, dan saat itu pun aku ketawa terbahak-bahak karena di daftar nama yang ketiga terpampang nama temanku cewek yang berparas wajah cantik, manis, bawel dan baik hati. Ernawati Liagustin nama lengkapnya orang Jember. Ya, boleh dibilang salah satu anak pengusaha gula di Jember Jawa Timur. Lalu akupun ambil handphone antiqku, mulai ku ketik kata demi kata akhirnya berbunyi

“Na, kamu ganti dosen pembimbing skripsi juga ya…?”

“Kamu sekarang dosen pembimbingmu skripsi bareng aku pak Anwar”

Setalah pesan terkirim maka aku langsung bergegas menuju perpustakaan menyiapkan tambahan bahan materi untuk menyusun proposal skrisiku ulang. Dan akhirnya handphone aku berbunyi, setelah ku buka pesan itu ternyata balasan dari Lia.

“Iya, aang aku ganti dosen pembimbing”. “Aku ga tau siapa dosen pembimbingku”

“Soalnya aku belum sempat ke kampus lihat-lihat pengumuman”

“Pak Anwar ya, alhamdulillah bareng to kita skripsinya”.

Lalu ku balas lagi, iya” aku besok mau bimbingan.” Piye, kapan kamu mau mulai bimbingan? “Tanyaku lewat sms”.

Besok deh kita bareng bimbingan, tapi aku nanti di ajari ya aang “jawab Lia”

Insyaallah na kalau aku bisa nanti ku bantu. Jawabku menangapi pertanyaan Lia.

Satu minggu itu aku rutin konsultasi ke pak Anwar. Ya, bersama temanku Erna aku rutin melakukan konsultasi. Tapi, kebawelan Lia mulai muncul yang selalu Tanya dan ngeyel terhadap apa yang di sarankan pak Anwar. Dengan sabar aku menangapi pertanyaan-pertanyaan Lia yang yang selalu ditanyakan kepada aku tatkala setelah selesai konsultasi ke pak Anwar. Setiap aku beritahu ke Lia tentang skripsinya pasti besoknya ditanyakan lagi tentang pertanyaanyang sama.

“Aang piye to iki, “Tanya Lia”.

“Lo, kemarin kan sudah di kasih tahu bahwa bla…bla….jawabku”

“Aku lupa lagi ang, piye iki”. “Balas Lia”

“Aku pun membalas. Ya sudah mending kamu beli buku aja tentang ………dan nanti kamu pelajari sendiri”.

“Ya, sudah deh besok aku beli bukunya. Tapi nanti tetep di ajari ya. “Tanya erna kembali”

Setelah dia beli buku yang aku saranin tadi. Masih belum di baca. Akhirnya terpaksa aku pinjam ku pelajari sendiri buku yang kemarin di beli oleh Lia. Tapi hanya sehari aku pinjam dan belum sempat ku baca semua sudah diambilnya.

Setelah ku kembalikan bukunya. Esok harinya setelah konsultasi ke pak Anwar masih menanyakan hal yang sama. Akhirnya erna ku tanyai.

Lo”na” bukanya bukunya sudah ku kembalikan masak kamu ga tau tentang teori ini dan itu. “Tanyaku sambil menyindir”.

Engak aang aku males bacanya, aku suka beli bukunya aja tapi malas bacanya. “Jawab Lia” he….sambil senyam senyum dengan paras wajah yang manis dan kelihatan cantiknya pada saat seyum. Tapi saat tidak senyumpun sahabatku erna tetap cantik. Ya, maklumlah memang dasarnya dia cantik, sudah dari sononya.

“Dasar kamu ini na sempat keluar dari mulutku…..”

Aku ga mau yang riber-ribet aang, yang penting aku bisa lulus dan mendapat gelar sarjana demi membahagiakan kedua orang tuaku. Jawab erna masih dengan senyuman manisnya. Ya, sudahlah kita kerjain bareng bareng aja ntar biar kita lulus bareng. “jawab ku” sambil tersenyum”.

Tak terasa aku dan erna sudah 4 kali dan erna 6 kali konsultasi masih belum di acc (disahkan) oleh pak Anwar. Aku pun tidak begitu aja putus asa, dan akhirnya saat aku konsultasi yang ke 5 baru proposal skripsiku di acc tapi sahabatku Lia belum juga di acc akhirnya dia marah, sebel yang membikin kecantikanya dia ga kelihatan. Akhirnya erna pun mengadu ke aku, "aang aku disaranin temanku Khotmi agar aku gertak dan rayu bapaknya biar cepat di acc" meniru ucapannya Lia pada saat itu". Wis ga popo wane’ wane’ karo dosenmu pesan Khotmi ke erna yang di teruskan Lia yang di ceritakan ke aku dengan logat bahasa jawa timurnya.

“Ku jawab” dasar kamu tu, memang kamu tu bawel ya na,”

“Di tanggapi Lia” dengan senyum dan ketawa-ketiwi………!”

Maka pada hari sabtu itu saran Khotmi di praktekan Lia dengan bicara ke pak Anwar ,

Pak skripsi saya kok ga di acc, revisi proposal terus. Mbok di acc biar cepet Tanya Lia ke pak Anwar. Tapi akhirnya proposal skripsi Lia di acc juga, mungkin karena ke bawelannya dia jadinya pak Anwar takut he………tapi ga juga mungkin pak Anwar sudah bosen dengan kebawelan Lia jadi di acc deh proposal skripsinya Lia.

Tertunduk Lesu di sepertiga malam


Pagi hari yang sunyi, sangat indah nan sejuk, tatkala bintang-bintang bertebaran dilangit yang beribu jumlahnya. Seorang hamba tertunduk lesu merenung seolah sedang meratapi nasib kehidupannya, jarum jam terus berputar sesuai dengan tugas sehari-hari, sama halnya dengan bumi yang setiap detiknya selalu berputar. Lantunan suara mahluk-mahluk tuhan yang memeriahkan suasana, sehingga seolah mirip dengan audisi penyanyi yang menghebohkan bumi nusantara kita. Dari situlah kemudian keluar bahasa “Hablum minal alam” bahasa yang aneh tapi mungkin bisa memberikan manfaat yang berarti bagi insane dimuka bumi ini. Jarum jampun menunjukan pukul 04.30 diiringi dengan suara lafal merdu yang menyeru ke seluruh penjuru muka bumi, lafal merdu tersebut kalau kita cermati dan di resapi secara mendalam tidak hanya lewat akal saja untuk mencermati lalu kemudian memprosesnya tetapi ruh, hati, jiwa, dan nafsupun ikut berpartisipasi dalam hal untuk menentukan pilihan hamba dalam menjalankan kehidupan, kujoba melangkah menentukan pilihan yang mungkin akan menolongku dalam mencari perlindungan dan kenyamanan dalam hidup, langkah itu aku tunjukan dengan merespon lafal merdu yang muncul dari surau yang berada di sebelah “gubuk” yang aku tempati, berkumandang saling bersahut-sahutan satu samalain. Seolah mengetarkan langit-langit di kaliurang yang masih gelap nan sunyi. Jangan salah gelap-gelap begini kehidupan sudah dimulai. Remaja tangung sambil menguap menahan kantuk mengambil wudlu. Anak laki-laki bergegas menjamah sarung dan kopiah. Anak gadis menjemput lipatan mukena putih dari atas meja. Bapak-bapak membuka pintu rumah menuju surau. ”ashsholaatu khoirum minan naum” lafal merdu yang aku tangkap dengan jelas dan seolah menghipnotis kalbuku yang penuh kehitaman.
Tiga menit. Mungkin, baru aku temukan asal dari lafal yang sangat merdu nan indah yang membangunkan insan-insan dimuka bumi dengan intonasi nada yang beragam. Setelah itu akupun segera bergegas untuk mensucikan diri dengan air yang mengalir dengan deras, percicak-percikan airnya pun terdengar sampai dalam surau, akupun segera bersiap-siap untuk melakukan meditasi dengan mengarah kekiblat dan sesuai aturan-aturan yang yang ditetapkan tuhan didalam buku ajaib. Kumelangkah pulang, tiba-tiba hembusan angin menyerang tubuhku dan sangat terasa sekali bahkan tulang rusukkupun ikut merasakan serangan dari angin dan udara yang sejuk tanpa tercampur-camur oleh asap yang keluar dari gunung yang sedang aktif. Akupun masuk kepintu gubuk yang akutempati untuk mengamankan tubuh yang dititipkan tuhan didunia sebagai hamba yang dimuliakan dari mahluk-mahluk tuhan yang lain ”sempurna” mungkin kata lebih tepatnya. Malam panjang yang mungkin sedang dirasakan oleh saudara-sadaraku yang sejak pergantian tugas dari matahari ke bulan sampai diambil matahari lagi beliau (saudaraku) belum memejamkan mata. Aku tegok ketempat yang gaduh,
Lalu dari mulutku keluar bahasa ”hedon” untuk menjuluki saudara-saudaraku yang memilki kebiasaan membolak-balik waktu (waktu tidur untuk bergadang, waktu beraktifitas untuk tidur) sungguh dunia yang aneh, bagiku yang tidak memiliki kebiasaanya yang aneh seperti saudara-sadaraku. Kata perubahan merupakan bahasa yang ringan dan sering keluar dari mulut-mulut insan yang normal, tetapi sangat sulit dan berat untuk dilaksanakan. Sebuah jiwa keberanian yang tertanam pada insan-insan yang mulia yang mungkin akan terwujudnya sebuah perubahan disegala hal. ”munculkanlah keberanian dizaman baru, kendati untuk itu kita siap menerima ocehan orang yang menertawakan, menghina, su’udon pada kita, tanamkanlah jiwa tentara (jiwa perang) pada diri kita”. Bulan mulai bergeser, mataharipun muli mengambil tugas dengan selalu menyinari bumi walaupun kita jarang mensyukuri bahwasanya matahari tak pernah terlambat beredar. Suara-suara gaduh mulai mulai hilang tetapi timbul suara-suara dengan nada tinggi insan-insan yang bersiap untuk mengembara untuk mencari informasi ilmu yang bertebaran disudut-sudut gedung yang megah yang penuh degan ilmu, mengakhiri coretan-coretan yang tak bermakna ini marialah kita coba merenungi keidupan kiata.
”matahari tak pernah terlambat beredar dan tak pernah berhenti bersinar, pagi yang indah adalah kemuliaan hidup untuk melangkah dan bersinar, mentari adalah kemuliaan sebuah semangat untuk beraktifitas dan berubaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.”